vipdomino99.info Partner Sejati Untuk Permainan Kartu Anda :) SELAMAT DATANG DI SITUS POKER ONLINE DENGAN PELAYANAN TERBAIK SE-ASIA | STATUS BANK : BCA - ONLINE| MANDIRI - ONLINE | BNI - ONLINE | BRI - ONLINE | DANAMON - ONLINE | PANIN - ONLINE | PERMATA - ONLINE | Untuk LOGIN SITE Di HP Menggunakan Link : vipdomino99.biz / vipdomino99.org

Header Ads

Stone Baby!!! Bukan Malin Kundang!!!



Memiliki anak adalah dambaan bagi setiap orang yang sudah menikah. Maka saat seorang wanita dinyatakan hamil, momen kelahiran bayi tersebut pun menjadi momen yang amat dinanti-nantikan. Namun tidak jarang momen yang sudah begitu lama dinantikan tersebut harus berakhir secara menyedihkan karena bayinya keburu meninggal sebelum lahir.

Kasus bayi yang meninggal dalam kandungan sekaligus menunjukkan bagaimana rentannya sistem reproduksi manusia. Terutama ketika peristiwa tersebut justru disebabkan oleh hal-hal yang sifatnya remeh dan bisa dihindari. Adapun salah satu kasus gagal melahirkan paling aneh yang bisa menimpa ibu hamil adalah lithopedion.


Lithopedion secara harfiah memiliki makna "bayi batu". Lithopedion sendiri adalah kasus di mana bayi meninggal di dalam kandungan dan kemudian mengeras layaknya batu. Bukan, bukan karena janin tersebut dikutuk layaknya Malin Kundang, lantas janin yang bersangkutan berubah menjadi seperti batu. Untuk memahami kenapa lithopedion bisa tercipta, maka mula-mula kita harus melihat proses pertumbuhan janin itu sendiri.

Janin normalnya akan mengalami pertumbuhan di dalam uterus ibunya. Namun jika karena suatu sebab janin ternyata malah berada di luar uterus, maka janin yang bersangkutan tidak akan bisa bertahan lama. Sahabat anehdidunia.com jika kasus ini terjadi, maka janin tersebut normalnya akan diserap kembali oleh tubuh. Namun untuk kasus lithopedion, kasus ini tidak terjadi. Pasalnya janin sudah berukuran terlampau besar untuk diserap kembali oleh tubuh. Sebagai akibatnya, tubuh kini memperlakukan janin tersebut sebagai benda asing yang sewaktu-waktu bisa menjadi sarang bagi bakteri berbahaya.

Karena janin tersebut tidak bisa dikeluarkan atau dihilangkan secara alamiah, tubuh pun lantas melakukan tindakan antisipasi. Janin tersebut diselimuti dengan lapisan kalsium sehingga kini janin tersebut seolah-olah menjadi patung. Persis seperti kerang mutiara yang menyelimuti benda asing dengan lapisan mutiara yang keras.

Sesudah janin tersebut mengeras, janin yang sama lantas dibiarkan begitu saja karena tidak lagi dianggap sebagai ancaman. Namun lain halnya bagi ibu yang tengah mengandung janin ini. Sekarang ia merasa kalau ada semacam bongkahan batu besar yang berada dalam tubuhnya.

Selama janin keras tersebut tidak dikeluarkan, maka selama itu pula janin yang bersangkutan tetap mendekam dalam tubuh ibunya. Dalam beberapa kasus, ada ibu yang mengangdung "bayi batu" ini hingga 50 tahun lamanya.

Kasus lithopedion termasuk sebagai kasus yang amat jarang. Di dunia ini, baru ada total 300 kasus lithopedion yang sudah diketahui oleh manusia, di mana salah satunya bahkan sudah terjadi sejak masa prasejarah.

Fosil bayi lithopedion tertua diketahui berusia 3.100 tahun dan ditemukan di Texas pada tahun 1993. Menurut arkeolog yang menemukan jasad bayi batu ini, anggota badannya terlihat mengeras dan diselimuti oleh lapisan kalsium yang tebal.

Hanya berselang tiga tahun kemudian, arkeolog kembali menemukan fosil jasad bayi yang mengalami lithopedion. Sahabat Rara, kali ini lokasi penemuannya berada di Costebelle, Perancis. Bayi malang tersebut diketahui berasal dari abad ke-4 dan meninggal dalam kandungan saat baru berusia 7 bulan.


Kasus lithopedion sendiri pertama kali diketahui pada abad ke-10 oleh ilmuwa Muslim asal Spanyol yang bernama Al-Zahrawi. Dalam buku kumpulan hasil kerjanya yang berjudul Kitab Al-Tasrif, Al-Zahrawi menulis kalau ia sempat menemukan bayi yang tubuhnya sudah mengeras. Namun baru pada abad ke-16, kasus lithopedion mulai dideskripsikan secara lebih mendetail oleh praktisi medis.

Kasus yang menimpa Colombe Charti adalah kasus lithopedion dari masa itu yang paling terdokumentasi. Pada tahun 1554 di kota Sens, Perancis, Charti mengandung anak bayi pertamanya. Namun saat ia hendak melahirkan bayinya, bayinya tidak mau keluar.

Selama tiga tahun berikutnya, Charti menghabiskan waktunya dengan beristirahat di ranjang. Ia juga kerap merasakan rasa sakit yang aneh di bagian perutnya di sisa hidupnya. Saat Charti akhirnya meninggal 28 tahun kemudian, suami Charti memanggil dua orang dokter bedah untuk memeriksa tubuh istrinya. Ia berharap bisa mendapatkan jawaban atas keanehan yang menimpa almarhumah istrinya.

Saat tubuh Charti dibedah, mereka menemukan benda keras dan berbentuk bulat di dalamnya. Awalnya dokter mengira kalau benda tersebut adalah semacam tumor. Namun saat kulit luar benda tersebut dipecah, mereka menemukan sesosok bayi yang berjenis kelamin perempuan tengah terbujur kaku di dalamnya.

Masih dari Perancis, seorang dokter setempat yang bernama Israel Spach mencantumkan ilustrasi bayi lithopedion dalam buku karangannya yang berjudul Gynaeciorum. Dalam buku terbitan tahun 1557 tersebut, Spach juga memberikan komentarnya mengenai kasus lithopedion ini.

Deucalion (tokoh mitos Yunani) membuat cetakan batu di belakangnya dan menciptakan ras kita dari batu marmer. Bagaimana bisa di masa yang sekarang ini, dengan situasi yang terbalik, tubuh seorang bayi mungil memiliki lengan yang lebih mirip batu?, tulisnya.

Selama empat abad berikutnya, dokter-dokter di berbagai belahan dunia menuliskan pengalamannya masing-masing terkait penemuan kasus aneh ini. Namun karena tidak ada yang bisa memberikan penjelasan ilmiah mengenai bagaimana bayi bisa mengeras di dalam tubuh ibunya sendiri, para ilmuwan di masa itu pun menggunakan penjelasan yang berbasiskan agama dan hal-hal gaib.

Seiring berjalannya waktu dan kian berkembangnya teknologi kedokteran, tabir misteri yang menyelimuti lithopedion secara perlahan-lahan mulai bisa disibak. Sahabat Rara, berkat penemuan teknologi ultrasonografi dan uji pra kelahiran, penyimpangan yang terjadi di masa kehamilan dapat dideteksi dan kasus wanita hamil yang melahirkan bayi batu dapat dihindari sebelum benar-benar terjadi.

Meskipun begitu, sebagai akibat dari masih belum meratanya akses pendidikan dan layanan kesehatan, kasus lithopedion masih dapat ditemui. Di Zaire atau Republik Demokratik Kongo contohnya, seorang wanita berusia 37 tahun diketahui mengandung bayi yang sudah mengeras. Keberadaan "bayi batu" itu sendiri awalnya tidak diketahui, karena dokter bedah awalnya mengira kalau wanita tersebut sedang menderita tumor.

Wanita yang bersangkutan menceritakan kalau di masa lalu, ia merasakan kalau dirinya sempat hamil. Namun saat bayinya tidak kunjung keluar, ia memutuskan untuk tetap melanjutkan aktivitas sehari-harinya seperti biasa. Baru tiga tahun kemudian, ia merasakan keganjilan pada tubuhnya.


Kasus serupa yang terjadi belum lama ini dapat dijumpai di Maroko. Awalnya seorang wanita setempat yang bernama Zahra Aboutalib tengah mengandung bayinya di tahun 1955. Namun saat ia sedang berada di rumah sakit, bukannya menjalani operasi caesar untuk membantu mengeluarkan bayinya, ia justru kabur setelah melihat bagaimana pasien lain meninggal usai menjalani operasi caesar yang gagal.

Seusai lari dari rumah sakit, Zahra tidak lagi merasakan rasa sakit pada perutnya. Bayinya tidak pernah lahir, namun ia juga tidak pernah kembali lagi ke rumah sakit. Baru pada tahun 2001, saat dirinya sudah berusia 70 tahun, Zahra memeriksakan diri ke dokter karena merasakan nyeri pada perutnya.

Dokter yang menangani Zahra lantas menemukan adanya gumpalan keras yang berukuran besar pada tubuhnya. Seperti halnya kasus di Kongo, dokter awalnya mengira kalau apa yang ada dalam tubuh Zahra adalah sejenis tumor. Sahabat anehdidunia.com saat Zahra kemudian dirujuk ke Perancis, dokter setempat menemukan kalau Zahra memiliki lithopedion dalam dirinya.

Sejumlah jasad bayi lithopedion disimpan di museum dan universitas untuk keperluan pembelajaran, supaya publik bisa mengetahui kalau fenomena macam ini benar-benar pernah dan bisa terjadi dalam tubuh manusia. Namun sebagian dari jasad bayi tersebut lenyap akibat beragam alasan. Bayi yang dulu dikandung Charti pada abad ke-16 contohnya, sekarang tidak bisa lagi dijumpai akibat mengalami kerusakan usai berpindah kepemilikan berulang kali.

No comments

Powered by Blogger.