vipdomino99.info Partner Sejati Untuk Permainan Kartu Anda :) SELAMAT DATANG DI SITUS POKER ONLINE DENGAN PELAYANAN TERBAIK SE-ASIA | STATUS BANK : BCA - ONLINE| MANDIRI - ONLINE | BNI - ONLINE | BRI - ONLINE | DANAMON - ONLINE | PANIN - ONLINE | PERMATA - ONLINE | Untuk LOGIN SITE Di HP Menggunakan Link : vipdomino99.biz / vipdomino99.org

Header Ads

3 Cara Bangun Komunikasi Berkualitas dengan "Si Dia"

Ilustrasi pasangan tertawa


Komunikasi berkualitas dengan orang terkasih adalah bagian penting dalam sebuah hubungan asmara. Sebuah hubungan biasanya akan sulit untuk dipertahankan jika ada yang kurang dalam hal komunikasi. Nah, sebelum hal yang buruk terjadi, ada baiknya kita dan pasangan membangun kebiasaan untuk mengembangkan komunikasi yang sehat. Berkomunikasi setelah adanya konflik bukanlah ide yang baik, justru akan memperburuk masalah yang ada dalam hubungan tersebut. Baca juga: 9 Hal Terlarang dalam Jalinan Asmara, Pria Harus Tahu... Irene Fehr, pelatih keintiman dan seksualitas mengatakan komunikasi adalah hal yang bisa menjadi solusi bagi konflik di masa depan. Menurut dia, ketika kita mencoba mencari cara untuk meningkatkan kualitas komunikasi dengan pasangan, koneksi adalah hal yang harus kita prioritaskan. "Elemen komunikasi yang paling penting adalah koneksi," kata Fehr. Seringkali komunikasi dalam suatu hubungan terjadi tanpa koneksi dan berubah menjadi pertengkaran karena tidak ada orang yang merasa dekat, terbuka, dan selaras dengan yang lain. Laman Elire Daily dalam artikelnya menguraikan sejumlah cara menumbuhkan komunikasi yang berkualitas dengan pasangan. 

1. Sediakan waktu untuk berkomunikasi Terkadang

       belajar berkomunikasi dengan pasangan membutuhkan banyak waktu. Meski komunikasi tampak lancar, menyisihkan waktu berbicara tentang hal penting sejak awal adalah ide yang bagus. "Jadwalkan waktu untuk percakapan penting, seperti tentang uang, keputusan besar, anak-anak, dan bahkan seks," kata Fehr. Meluangkan waktu dan energi untuk komunikasi dapat mencegah kesalahpahaman dan pertengkaran yang kerap hadir karena diskusi tak sehat, di mana membuat pasangan sulit untuk terhubung dan saling mendengarkan.

2. Belajar untuk mendengar Menurut Fehr

        kita kerap berpikir komunikasi adalah tentang membiarkan pasangan kita tahu apa yang kita pikirkan dan butuhkan. Namun, komunikasi juga perihal saling mendengarkan, bukan hanya menanggapi. Jadi, kita juga harus melakukan hal yang sama. Dengan kata lain, hal pertama yang harus kita pelajari adalah menempatkan hubungan dengan menciptakan ruang yang aman bagi kita dan pasangan untuk berbicara dan didengar. Komunikasi bukan sekadar mengekspresikan pendapat kita, atau membiarkan pasangan tahu bagaimana perasaan kita. Tapi, aspek penting dalam komunikasi adalah menyeimbangkan antara berbicara dan mendengar. "Kita harus belajar cara mendengarkan yang baik, yaitu mendengarkan pasangan ketika menerima dan mengizinkan dalam percakapan tersebut," paparnya. Ketika berada dalam kondisi di mana kita berdua bisa menangani emosi saat mendengarkan dan berada di dekat kekasih, komunikasi semacam ini bisa membangun kepercayaan. Pada akhirnya, ini menciptakan ruang untuk memberikan apa yang kita butuhkan dalam komunikasi dengan cara yang dapat didengar. Menurut dia, dibutuhkan upaya sadar untuk mendengarkan dan menyerap apa yang dikomunikasikan oleh pasangan. Menempatkan upaya ini, bahkan ketika sulit, bisa membuat kita saling memahami sudut pandang satu sama lain dengan cara yang lebih kuat. 

3. Pahami bahasa cinta pasangan Menurut Fehr

        hal ini dimulai dari kesadaran diri tentang kebutuhan individu dan mengomunikasikannya pada pasangan. Misalnya, orang terbiasa dengan rutinitas pagi yang sibuk mungkin meminta pasangannya untuk tidak melakukan komunikasi yang intensif di pagi hari. Setiap orang berbeda, jadi hal yang wajar jika kita memiliki cara berkomunikasi yang berbeda. Tapi, jika kita mulai berkomunikasi dengan cara yang berfungsi optimal untuk kepentingan kita dan pasangan, kata Fehr, kesalahpahaman yang menyebabkan pertengkaran kemungkinan besar tak akan terjadi. "Mereka yang terbiasa menggunakan bahasa cinta berupa kata penegasan, mungkin membutuhkan kata-kata seperti itu untuk membantu merasa lebih dekat dengan pasangan sebelum dapat membicarakan hal penting," kata Fehr. Namun, mereka yang terbiasa menggunakan sentuhan sebagai bahasa cinta, mungkin membutuhkan pelukan atau kontak fisik agar merasa rileks. Ketika kita sudah terbiasa dengan gaya komunikasi satu sama lain, ini akan mempermudah kita untuk mendapatkan komunikasi yang berkualitas dalam hubungan. Meski ini terdengar rumit, Fehr mengatakan, ini adalah hal penting untuk membangun komunikasi yang solid untuk menghindari konflik. Dengan cara ini, kita dan pasangan bisa masuk dalam percakapan berkualitas untuk menyelesaikan masalah.

No comments

Powered by Blogger.